TIK sebagai Sarana Komunikasi dengan Kelompok Sasaran
Dibuat oleh:
Nopita Lastri (19005031)
Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Padang
Hallo teman2 pada pertemuan blog kali ini kita akan membahas tentang TIK sebagai saran komunikasi dengan kelompok sasaran. Nah TIK sebagai sarana komunikasi dengan kelompok sasaran ini terbagi atas 4 bidang kelompok sasaran, yaitu :
Penggunaaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran program pelatihan
Program pelatihan merupakan program yang menekankan kepada keterampilan, karena pelatihan adalah proses membantu peserta pelatihan untuk memperoleh keterampilan agar dapat mencapai efektivitas dalam melaksanakan tugas tertentu melalui pengembangan proses berpikir, sikap, pengetahuan, kecakapan dan kemampuan. Hal ini sangat memungkinkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam program pelatihan ini, karena dengan adanya TIK maka proses pembelajarannya akan lebih mudah.
Contoh : disebuah nagari atau desa, ada beberapa warga yang mengikuti pelatihan memasak dan menjahit. Nah disana cara menangkap ilmu pengetahuan pelatihan tersebut berbeda-beda. Dengan demikian, pelatih dilakukan menggunakan video yang ditayangkan melalui infocus , yang mana video di download terlebih dahulu di youtube dan membagikannya kewarga belajar. Dengan begitu warga yang mengikuti pelatihan tersebut bisa belajar juga di rumah tanpa adanya pelatih.
Jadi, pelatih tidak hanya membelajarkan peserta pelatihannya secara langsung atau tatap muka, namun peserta juga bisa belajar di rumah. Dengan bantuan TIK maka proses pembelajaran akan lebih mudah dan tidak memakan waktu lama, untuk mencari tahu informasi apapun warga belajar bisa mengakses informasi yang dibutuhkan melalui pemanfaatan dari TIK.
Penggunaaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran program pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila masyarakat itu sendiri ikut pula berpartisipasi. Pemberdayaan penggunaan sistem TIK untuk pemberdayaan masyarakat sama sekali tidak dapat dimaksudkan sebagai alternatif pengganti dari sistem pendidikan yang ada, melainkan hanya bersifat suplementer (tambahan) dan komplementer pelengkap) kepada sistem pendidikan.
Singkatnya, sistem TIK berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai sarana penunjang pemberdayaan masyarakat, khususnya untuk meningkatkan kapasitas pelayanan masyarakat, untuk memperbesar peluang akses ke berbagai pusat informasi pendidikan dan memperbesar peluang masyarakat untuk mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu dalam berinteraksi dengan para pendidik, tapi ini semua hanyalah meningkatkan kuantitas sistem pemberdayaan masyarakat, dan sama sekali tidak meningkatkan kualitasnya. Dalam hal ini, kita bisa menggunakan TIK untuk menambah ilmu pengetahuan seperti : mencari informasi tentang apa yang kita butuhkan. Dengan menggunakan TIK misalnya melalui google maka sedikit tidaknya kita akan mendapatkan informasi, dengan itu kita bisa membandingkan juga dengan buku yang telah kita pelajari sebelumnya.
Penggunaaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran program penyuluhan dan/atau iklan layanan masyarakat.
Penyuluhan merupakan suatu usaha menyebarluaskan hal-hal yang baru agar masyarakat tertarik, berminat dan bersedia untuk melaksanakannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Penyuluhan tidak lepas dari bagaimana agar sasaran penyuluhan dapat mengerti, memahami, tertarik, dan mengikuti apa yang disuluhkan dengan baik, benar, dan atas kesadarannya sendiri berusaha untuk menerapkan ide-ide baru dalam kehidupannya. Penyuluhan memberikan arahan kepada seorang atau sekelompok orang dengan cara mendekatinya terlebih dahulu dan mengetahui masalah yang dialami oleh orang tersebut terlebih dalulu. Namun sekarang dunia sudah canggih, tidak perlu bertemu langsung untuk melakukan penyuluhan. Kita bisa memberikan informasi secara langsung tanpa harus tatap muka. Misalnya dalam progaram gizi buruk , kita bisa memberikan sesuatu seperti sejenis iklan tentang gizi buruk melalui internet, yang mana nanti akan dibaca oleh masyarakat. Dengan ini akan lebih memudahkan peyuluh dan tidak perlu mendatangi satu persatu warga belajar untuk melakukan penyuluhan.
Untuk dapat mendapatkan hasil yang optimal dalam pemanfaatan Teknologi informasi dan komunikasi di masyarakat pedesaan diperlukan strategi yang tepat dalam merencanakan pembangunan didaerah. Tiap wacana yang menggunakan TIK dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat di desa mensyaratkan para perencana pengembangan TIK untuk dapat mendefinisikan unsur-unsur penunjang yang esensial untuk mencapai hasil yang diinginkan. Harus diakui bahwa Implementasi TIK akan dapat membawa dinamika tersendiri seperti mengubah dinamika permasalahan, misalnya, dapat saja diperoleh hasil yang tidak pernah diharapkan, tetapi ternyata justru lebih baik daripada yang diharapkan. Hal itu terjadi saat masyarakat menerapkan teknologi sesuai kebutuhannya sendiri, yang mungkin tidak direncanakan oleh perencana pembangunan. Hal seperti itu justru baik, menandakan keberhasilan intervensi dalam menanggapi kebutuhan sosial.
Penggunaaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran program pendidikan kesetaraan.
Pendidikan kesetaraan merupakan salah satu contoh yang saat ini banyak dikenal oleh masyarakat sebagai program PLS yang berperan sebagai alternatif pengganti pendidikan formal adalah Kelompok Belajar (Kejar) Paket A sebagai pengganti SD/MI, Paket B sebagai pengganti SMP/MTS, dan Paket C sebagai pengganti Pendidikan Sekolah Menengah Atas. Lulusan Kejar Paket C sama dengan lulusan SLTA dan diterima untuk mengikuti Seleksi Masu Perguruan Tinggi. Fungsi PLS sebagai pengganti pendidikan formal disebut sebagai substitusi yang diimplementasikan menjadi bentuk program kesetaraan.
TIK sangat berguna dan bermanfaat dalam pendidikan kesetaraan, contohnya saja: dengan menjadikan TIK sebagai kebutuhan maka keinginan mempelajari lebih lanjut dan mengembangkan skill dan knowledge mereka akan muncul dengan sendirinya. Peran satuan-satuan pendidikan nonformal sebagai pemicu dan memberikan wawasan inilah yang justru lebih penting daripada sekedar menyediakan sarana dan prasarana berharga mahal tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan.
Sekian dulu materi dari penulis untuk pertemuan kali ini, semoga bermanfaat dan bisa menambah ilmu serta pengetahuan pembaca, silahkan memberikan komentar dan memberi kritikan. Terima kasih :)
Sampai jumpa di blog selanjutnya :)
Social media : @nopitalastri07_
Daftar Rujukan :
Azhar Arsyad. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosda
Munir. 2008. Kurikulum Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Rustam, K.R. 2011. Pembelajaran Berbasis TIK. Jakarta:Raja Grafindo Persada.

π₯
BalasHapusBermanfaat π
BalasHapusπππ»
BalasHapusNice kakakπ
BalasHapusMantab, semangat teruss kakk
BalasHapusSemangat penulisπ
BalasHapusππ
BalasHapusMntap
BalasHapusππ₯
BalasHapusTerimakasih ilmunya
BalasHapusGood job penulis
BalasHapusKeren, semangat teruss kakk
BalasHapusMakasih ilmu yii
BalasHapusKeren aiii
BalasHapusSemangat penukis
BalasHapusMangat
BalasHapus